
Dompu – menegaskan Putin Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini mengungkapkan alasan mengapa Moskow memilih untuk tidak terlibat langsung dalam konflik antara Iran dan Israel, meskipun hubungan antara Rusia dan Iran telah terjalin erat selama beberapa dekade. Dalam pernyataannya, yang disampaikan pada Forum Ekonomi Internasional St Petersburg, Putin menegaskan bahwa Rusia berusaha untuk tetap netral dalam konflik yang melibatkan negara-negara besar tersebut,
Rusia dan Iran memang memiliki hubungan yang panjang dan kuat, terutama dalam bidang ekonomi dan militer. Namun, meski hubungan ini terlihat solid, Putin menegaskan bahwa faktor-faktor tertentu membuat Moskow enggan mengambil posisi terbuka dalam konflik ini. Salah satu alasan utamanya adalah keberadaan hampir dua juta orang berbahasa Rusia yang tinggal di Israel.
Diplomasi dan Stabilitas Domestik Rusia
Putin melanjutkan dengan mengingatkan bahwa Rusia selalu memperhitungkan faktor internalnya dalam kebijakan luar negeri. Keberadaan komunitas Rusia yang besar di Israel menciptakan sebuah dinamika politik yang lebih rumit.
Meski Israel merupakan sekutu kuat bagi negara-negara Barat, khususnya AS, Rusia tetap memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan dunia Islam. Bahkan, Rusia adalah negara pengamat di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang semakin memperkuat posisi Moskow dalam diplomasi global.
Menanggapi Kritik

Baca Juga : Klasemen F1 2019 Usai Bottas Menangi GP Australia
Rusia, Iran, dan Kepentingan Global
Keputusan Rusia untuk tetap berada di “pinggir lapangan” dalam konflik ini mungkin mencerminkan pergeseran sikap Moskow dalam politik internasional. Dalam menghadapi ketegangan global yang semakin meningkat, Rusia tampaknya memilih untuk tidak terjebak dalam aliansi ideologis yang bisa mengancam stabilitas dalam negeri dan merusak hubungan dengan negara-negara lain yang juga memiliki kepentingan di kawasan tersebut. Sikap Rusia ini menunjukkan pragmatisme dalam menghadapi situasi internasional yang semakin kompleks.
Moskow lebih memilih untuk memainkan peran sebagai mediator yang menjaga hubungan baik dengan kedua belah pihak—Israel maupun Iran—sebagai bagian dari strategi besar untuk memperkuat pengaruhnya di dunia Timur Tengah, sekaligus menjaga hubungan stabil dengan negara-negara besar lainnya.



